Kabalitbangdiklat Membuka Diklat bagi Guru dan Pengawas

Diterbitkan pada Selasa, 30 Agustus 2016 10:35
Dilihat: 12793

CIPUTAT - "Tugas guru sangat mulia tapi berat, tidak semua orang bisa melakukannya. Tugas guru dan pengawas harus memastikan bahwa yang dididik ataupun yang diawasi harus bisa melakukan pembelajaran dengan baik." Demikian hal itu disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat (Kabalitbangdiklat) Kementerian Agama Prof. Dr. H. Abd. Rachman, Ph.D dalam sambutannya di acara pembukaan diklat pagi tadi hari Selasa (30/8) di Aula Kampus Pusdiklat Kemenag, Ciputat.

Kabalitbangdiklat berkesempatan membuka secara resmi tiga diklat teknis substantif, yaitu Diklat Teknis Substantif Kependidikan Angkatan XXIII Materi Publikasi Ilmiah untuk Pengawas Madrasah, Diklat Teknis Substantif Kependidikan Angkatan XXIV Materi Perencanaan Pembelajaran untuk Guru Madrasah Ibtidaiyah dan Diklat Teknis Substantif Kependidikan Angkatan XXV Materi Publikasi Ilmiah untuk Guru Madrasah Ibtidaiyah. Masing-masing angkatan diklat diikuti oleh 30 orang peserta utusan dari berbagai Kanwil Kementerian Agama Provinsi di Indonesia.

Diklat yang akan berlangsung selama 7 (tujuh) hari hingga Minggu (4/9) tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para Guru MI dan Pengawas Madrasah agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai tuntutan kompetensi jabatannya.

Saat itu Kabalitbangdiklat didampingi oleh Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan (Pusdiklat Teknis) Dr. H. Mahsusi, M.M dan Kepala Bidang Penyelenggaraan Diklat Dr. H. Susari, MA serta dihadiri para pejabat struktural dan fungsional Pusdiklat Teknis.

Dalam sambutannya Kabalitbangdiklat mengulas kembali peran penting para guru dan pengawas dalam memajukan peradaban masyarakat. Beliau menegaskan pentingnya memahami perintah membaca dalam wahyu Allah yang pertama turun dalam QS. Al-'Alaq, yaitu perintah "Iqra". Beliau menunjukkan salah satu indikator perhatian lembaga pendidikan terhadap budaya baca-tulis adalah melalui keberadaan perpustakaannya.

"Sejauh mana lembaga pendidikan, perpustakaannya diperhatikan atau tidak. Lembaga-lembaga pendidikan yang maju pasti sangat memperhatikan perpustakaan, sangat memperhatikan baca dan tulis," ungjarnya.

Beliaupun menceritakan bagaimana kondisi perpustakaan di lembaga pendidikan negara-negara maju yang relatif nyaman dengan koleksi buku yang lengkap serta layanan yang baik. "Di negara-negara maju, rektoratnya tidak populer, tapi perpustakaannya sangat dikenal dan banyak pengunjungnya. Layanan buka dari pagi hingga tengah malam." ungkapnya.

Selanjutnya beliau mengharapkan agar para guru dan pengawas melakukan "takmir" atau keramaian akademis di madrasah-madrasah. Dengan meluruskan kembali niat dalam melakukan tugas guru dan pengawas. Beliau mengungkapan, "para guru dan pengawas perlu 'renew' atau 'tajdid' niat, memperbarui kembali niat mulia untuk mengawas, niat mulia untuk mendidik dan mengajar. Berkomitmen menjadi guru ideal, menjadi pengwas ideal begitu juga pejabat ideal." 

Lebih lanjut beliau menegaskan, "jabatan itu bisa memuliakan seseorang, tapi juga bisa menghinakan seseorang. Tentu kita memilih jabatan yang bisa memuliakan kita di dunia dan akhirat." 

Di ahir sambutannya, beliau tidak terlewatkan membacakan memeinya, "akar utama masalah pembelajaran dunia islam adalah abainya umat terhadap perintah iqra. Maka pusat intelektualisme sudah lama pindah dari dunia islam karena budaya ini tidak dinomorsatukan lagi oleh umat meskipun merupakan perintah pertama pencipta alam jagat raya." dan "Guru yang berhasil adalah tokoh panutan, yag bisa melahirkan anak didik yang cinta baca, membudayakan iqra, belajar mandiri, semangat meneliti, spirit of inquir skipun merupakan perintah pertama pencipta alam jagat raya." 

Semoga setelah mengikuti diklat tersebut, para guru dan pengawas mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam diklat dalam meningkatan kualitas pembelajaran di madrasah. [elf]