Buka Diklat Teknis, Kaban Ajak Peserta Bertadarus Ilmu

KabanRA

Ciputat (22 Mei 2018). Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan  Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama kembali menggelar diklat teknis pada 21 s.d. 27 Mei 2018 bertempat di Kampus Diklat Kementerian Agama, Ciputat, Tangerang Selatan.

 

Diklat yang dihelat di bulan Ramadhan ini terdiri atas empat angkatan, yaitu Diklat Teknis Substantif Pembelajaran Tematik Raudhatul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta  Diklat Teknis Substantif Guru Madrasah Diniyah Angkatan I dan Angkatan II. Kepala Badan Litbang dan Diklat (Kaban), Abd. Rahman Mas’ud, berkenan membuka diklat pada Selasa, 22 Mei 2018, didampingi Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, Mahsusi, serta pejabat eselon III dan IV.

Kaban dalam arahannya menyampaikan bahwa diklat ini diselenggarakan di bulan Ramadan sebagai bentuk tadarus ilmu. “Puasa tidak menyebabkan kita bermalas-malasan. Sebaliknya, sewaktu berpuasa kita harus meningkatkan amal ibadah kita. Salah satu amaliyah bulan Ramadan adalah tadarus. Diklat ini juga merupakan bentuk tadarus ilmu agar para guru belajar dan berlatih sehingga semakin kompeten, semakin berkualitas melaksanakan proses belajar mengajar”, ungkap Kaban.

Guru dituntut mengembangkan kompetensinya secara kontinu. Pengembangan kompetensi meniscayakan tradisi membaca. “Untuk itu, di bulan Ramadan ini perbanyaklah membaca sebagaimana perintah ayat yang pertama kali diturunkan, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat ini pertama kali diturunkan, namun dalam pengamalannya sering kali menjadi tidak utama. Bagi guru, tradisi membaca haruslah menjadi hal yang utama”, tegas Guru Besar UIN Wali Songo ini.

Kaban mengajak guru RA, MI, dan Madrasah Diniyah senantiasa meningkatkan kualitas belajar mengajar. Menurut Kaban, masa depan peserta didik sangat dipengaruhi oleh pendidikan di beberapa tahun pertamanya. Merujuk buku The Learning Revolution karya Gordon Dryden, Kaban mengutip ungkapan Buckminster Fuller: “all children are born geniuses, and we spend the first six years of their lives degeniusing them" (Setiap anak dilahirkan dalam keadaan jenius. Kitalah yang mengubahnya menjadi pandir dalam usia 5 tahun pertama). Menurut Kaban, ungkapan tersebut senada dengan sabda Rasulullah yang berbunyi:كل مولود يولد على الفطرة (setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah).

“Terlebih di era teknologi informasi dan komunikasi, tantangan guru pendidikan agama semakin berat. Tidak sedikit anak-anak kita begitu kecanduan mengakses perangkat teknologi. Sebagian dari mereka bahkan terkena dampak buruknya dengan meniru tampilan-tampilan yang tidak bermoral. Di sinilah peran guru menjadi sangat signifikan. Guru RA, MI, dan Madrasah Diniyah menjadi tumpuan harapan penguat akhlak anak-anak kita. Karena itu, tidak ada pilihan kecuali guru harus kompeten”, pungkas Kaban. []

efa_af/diad

Sumber: balitbangdiklat.kemenag.go.id


Print   Email