Jadwal Diklat

jadwal diklat

Berita Lain

Simdiklat 1

DJJ AKD

Bedah Buku: Pendidikan Islam, Memajukan Umat dan Memperkuat Kesadaran Bela Negara

Oleh Yetti Nurhayati

Bedah Buku atau yang dikenal dengan resensi buku (a book review) secara sederhana dapat diartikan sebuah kegiatan mengungkapkan kembali isi suatu buku secara ringkas dengan memberikan saran terkait dengan kekurangan dan kelebihan buku tersebut menurut aturan yang berlaku umum atau yang telah ditentukan.

Rabu 28 September 2016, Pusat Penelitian dan Pengembangan pendidikan agama dan keagamaan mengadakan bedah buku yang berjudul “PENDIDIKAN ISLAM” Memajukan Umat dan Memperkuat Kesadaran Bela Negara. Editor: M. Hamdar Arraiyyah dan Jejen Musfah.

Kegiatan bedah buku ini diharapkan dapat menggugah, mengubah serta masukan sehingga menjadi suatu tambahan dalam rangka  merperbaiki buku. Kegiatan yang rutin dilaksanakan ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam isi buku buku dengan isu isu aktual yg berkembang di masyarakat serta dapat mengasah kepekaan kita dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang Pendidikan Islam dan Bela Negara. Hal ini di sampaikan oleh Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Formal, Bapak Dr. Nurudin, M.Si dalam pembukaan kegiatan bedah buku (mewakili Kepala Pusat penelitian Pendidikan Agama).

Dikatakan juga oleh Dr. Nurudin, M.Si bahwa Kegiatan bedah buku ini dilakukan bertujuan untuk melihat bagaimana relasi, peran, kontribusi pendidikan khususnya pendidikan islam dalam konteks kesadaran bela negara. Kita  tahu dalam pendidikan islam dalam jenjang pendidikan formal  memiliki kontribusi 20% terhadap satuan  pendidikan yang ada di Indonesia. 20 % merupakan angka yang cukup besar sehingga pendidikan islam ini akan menempatkan dirinya atau Wajah pendidikan islam di Indonesia akan turut serta berkontribusi terhadap wajah bagaimana  karakter masyarakat bangsa Indonesia.

Buku ini adalah kumpulan gagasan-gagasan penting yang akan dicermati bersama. Berbicara tentang pendidikan islam yaitu Madrasah yang saat ini telah bergerak dari semua akses pendidikan menjadi penguatan peningkatan kualitas. Di pesantren saat ini ada penurunan jumlah animo peminat masyarakat pada pendidikan non formal. Hal ini apakah dapat dikatakan bahwa apakah treatment kebijakan program-program yang telah dilakukan kementerian Agama selama ini, apakah efektif dan evaluasi-evaluasi terhadap yang telah dilaksanakan sudah berjalan baik. Pendidikan Islam di Indonesia saat ini adalah pendidikan yang ramah. Pendidikan islam yang ramah adalah bukan pendidikan islam yang marah ini tercermin dalam konteks pembelajaran maupun dalam konteks pendidikan islam.

Kegiatan yang dihadiri 100 orang terdiri dari Dosen, Pengawas, Kepala Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah, Guru Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah serta Widyaiswara. Kegiatan bedah buku ini di harapkan ada masukan di semua tulisan yg ada di dalam buku tersebut, sehingga bisa dijadikan satu wawasan atau gambaran khususnya bela negara. Sebagai Moderator dalam pembahasan bedah buku yaitu Dr. H. Imam Tholkhah, MA.

Penulis dalam buku ini terdiri dari Peneliti, profesor riset, widyaiswara, dosen di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dan dosen Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum dengan pangkat professor berjumlah 29 orang. Tulisan tersebut terbagi dari 29 tulisan yang dibagi menjadi 9 tema, yaitu:

  1. Pendidikan Agama Islam, 9 judul
  2. Pendidikan Madrasah, 6 judul
  3. Pendidikan Pesantren, 7 judul
  4. Pendidikan Tinggi, 7 judul

Latar belakang pembuatan buku ini adalah Lembaga Pendidikan Islam (LPI) seperti pesantren, madrasah, dan PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam), harus mengalami kemajuan dari masa ke masa. Kemajuan LPI bukan sesuatu yang given atau taken for granted, tetapi diusahakan dengan sungguh-sungguh oleh umat Islam dengan dukungan tim yang solid dan manajemen yang matang. Bukti kemajuan LPI adalah keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan karakter alumni.  LPI harus dapat  melahirkan lulusan yang kompeten dalam ilmu sains seperti Biologi, Fisika, Matematika, Kimia, dan Teknologi-Informasi,LPI harus mampu melahirkan alumni yang mampu mempertahankan karakter baik, yang terbukti mampu dilakukannya selama dalam masa pembinaan di lingkungan LPI serta mampu melahirkan alumni LPI yang menguasai ilmu-ilmu sains. LPI juga harus mampu mempertahankan keunggulan alumni dalam penguasaan ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, Hadits, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.

Strategi keunggulan yang perlu dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Islam antara lain, adalah:

  1. Guru pesantren dan madrasah harus kompeten dan punya integritas tinggi
  2. Kurikulum pesantren dan madrasah memadukan keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu sains
  3. Pesantren dan madrasah dikelola dengan manajemen terbuka.

Dalam kesempatan ini juga hadir dari Deputi VI/Kesbang Kemenkopolhukam yang dalam hal ini di wakili oleh  Asdep Koord Pengelolaan Wilayah Khusus Kemenko Polhukam Bapak  Brigjen TNI I Dewa Ketut Siangan, S.IP, sebagai pembahas dalam bedah buku. Beliau  menyoroti tentang tema yang berkaitan dengan bela negara yaitu Tema pendidikan Pesantren. Masalah bela Negara  dibahas dalam tema Pendidikan Pesanten. Diharapkan ada pembahasan tentang upaya pengembangan kesadaran bela Negara di kalangan santri. Pembahasan tentang tema ini diharapkan dapat mendukung upaya penguatan kesadaran bela Negara yang digalakkan oleh pemerintah di tengah gejala merosotnya kesadaran tersebut pada sebagian masyarakat Indonesia.  Dalam upaya pembinaan kesadaran bela negar asangat perlu mengikutsertakan pesanren yang jumlahnya lebih dari 20.000 (dua puluh ribu) lembaga,  karena kegiatan dan peran tersebut sudah dilaksanakannya sejak sebelum merdeka.

Banyak tokoh yang mengatakan bahwa bagi umat Islam, masalah bela Negara merupakan hal yang sudah final, tidak perlu diperdebatkan lagi.  Sebelum bangsa Indonesia merdeka, umat Islam di Indonesia sudah melaksanakan upaya bela Negara untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Berdasarkan sejarah tersebut, sudah tepat apa yang disampaikan penulis bahwa “sejarah santri adalah bela Negara”.  Mencintai Negara adalah bagian dari iman (hubbul-watan minal-iman).  Karena bagian dari iman, maka upaya bela Negara adalah wajib hukumnya. Hal ini sesuai dengan konstitusi kita yang mengamanatkan bahwa bela Negara merupakan hak dan sekaligus kewajiban bagi setiap warga Negara.

Dalam pembahasan tema Pendidikan Pesantren, yang menulis berkaitan dengan aspek bela Negara adalah Bapak M. Bambang Pranowo dengan judul “Santri dan Bela Negara”.  Sangat dimaklumi Bapak M. Bambang Pranowo menulis materi tersebut, karena beliau cukup lama berinteraksi dengan institusi Kemhan, sehingga beliau cukup faham, mengetahui dan bahkan merasakan bagaimana pelaksanaan pembinaan kesadaran bela Negara yang dilaksanakan oleh Kemhan.

Banyak tokoh Islam yang sudah memberi dan menjadi contoh bagaimana kesadaran bela Negara     sudah diimplementasikan untuk mengusir penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, seperti Pangeran Diponegoro, Tengku Cik Di Tiro, Cut Nyak Dien, Pangeran Samber Nyowo.  Tokoh santri seperti K. H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan K.H. Hasyim Asya’ri pendiri NU, kedua tokoh tersebut mengembangkan pendidikan dalam Islam, dan melalaui lembaga pendidikan Islam mereka telah berhasil mendidik kader-kader  bela Negara. Pada saat ini kaum mudanya telah melakukan pembinaan kesadaran bela Negara melalui organisasi pemudanya, Pemuda Muhammadiyah membentuk KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah, sedangkan Pemuda NU membentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser).  Kami berharap pembinaan kesadaran bela Negara dapat dilaksanakan dalam  sinergitas yang tinggi dengan K/L terkait, untuk mendukung program pemerintah untuk membentuk kader bela Negara dalam jumlah yang sangat besar.  Tanpa sinergitas, sasaran yang sudah dicanangkan sangat sulit untuk diwujudkan.  

Buku “Pendidikan Islam memajukan Umat dan Memperkuat Kesadaran Bela Negara” sudah disusun dengan baik oleh para penulis yang mempunyai kualifikasinya di bidangnya masing-masing.  Lembaga Pendidikan Islam  harus mampu menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu-ilmu sains dan mampu mempertahankan dan meningkatkan keunggulan alumni di bidang ilmu-ilmu agama.  Dengan buku tersebut dapat mendorong para siswa/mahasiswa untuk mendalami  ilmu agama dan ilmu sains secara berimbang sehingga dapat mewujudkan kepribadian yang kokoh kuat secara spiritual, namun professional dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

Nilai-nilai Dasar Kesadaran Bela Negara yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Indonesia, meliputi :

  1. Cinta Tanah Air.

Setiap warga negara harus mencintai tanah air sebagai ruang hidup dalam menjalankan kehidupannya yang selalu mendapat ancaman baik dari dalam maupun luar negeri; antara lain diwujudkan menjaga lingkungan hidup, mengenal wilayah tanah air, dan mencintai produk dalam negeri agar tumbuh rasa nasionalisme.

  1. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara. 

Setiap warga negara dituntut mempunyai kesadaran atas tanggung jawabnya sebagai warga masyarakat yang didukung pengetahuan, keterampilan, kompetensi serta pribadi manusia yang beriman, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan bersikap demokratis; antara lain diwujudkan dengan bersikap disiplin, bertanggung jawab, saling menghargai dan menghormati, menjaga kerukunan, berjiwa gotong royong, mendahulukan kewajiban daripada hak sebagai warga negara, serta mendahulukan kepentingan negara dan bangsa daripada kepentingan pribadi dan kelompok.

  1. Yakin Pancasila Sebagai Ideologi Negara.

Setiap warga negara dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara mengacu dan berlandaskan ideologi Pancasila; antara lain diwujudkan dengan bertaqwa kepada Tuhan YME, menjalankan kewajiban agama, mempunyai kesadaran membantu sesama, memelihara persatuan dan kesatuan, mengedepankan musyawarah untuk mufakat, serta mewujudkan keadilan sosial

  1. Rela Berkorban Untuk Bangsa Dan Negara.

Setiap warga negara harus mampu mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi/golongan dan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan tugas, hak dan kewajiban tanpa pamrih (ikhlas); antara lain diwujudkan dengan rela menolong sesama warga, mendahulukan kepentingan umum, bersedia menyumbang tenaga, pikiran, kemampuan, keahlian dan materi untuk kepentingan bangsa dan negara, siap membela bangsa dan negara, serta yakin pengorbanannya tidak sia-sia.

  1. Memiliki Kemampuan Awal Bela Negara.

Setiap warga negara harus mempunyai kemampuan psikis berupa sikap dan perilaku disiplin, ulet, bekerja keras, taat aturan, percaya kemampuan sendiri, tahan uji dan pantang menyerah serta mempunyai kemampuan fisik yang prima untuk mendukung kemampuan psikis; antara lain diwujudkan dengan mempunyai kondisi kesehatan fisik dan mental yang baik, memiliki keterampilan, integritas pribadi, pantang menyerah, dan disiplin, serta tanggap terhadap kondisi yang terjadi di masyarakat.

Meningkatkan Iptek dan Pancasila

  1. Pendidikan Bela negara dimaksudkan agar dapat menimbulkan motivasi dan daya juang yang tinggi para warga bangsa, terutama pemuda dan mahasiswa untuk berupaya meningkatkan kemampuan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi  (Iptek) dalam meningkatkan daya saing pemuda Indonesia, karena hanya bangsa yang dapat menguasai iptek secara efisien dan produktif untuk kemajuan umat manusia yang akan mampu maju dengan cepat. Hanya bangsa yang dapat menguasai dan mengembangkan Iptek yang akan mampu mandiri di dalam menentukan nasibnya.
  2. Sejarah menunjukkan bahwa dengan Iptek, umat manusia mengalami lompatan-lompatan besar dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan.
  3. Sejarah juga menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang menguasai Iptek saja yang berhasil menjadi bangsa yang maju dan makmur.
  4. Namun itu saja tidak cukup, kita juga harus meningkatkan kesetiaan kita pada Pancasila dan UUD 1945.
  5. Kita harus sadar bahwa tanpa nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, maka kemajuan Iptek yang kita capai justru dapat memerosotkan nilai-nilai kemanusiaan.
  6. Tanpa nilai-nilai persatuan dan kesatuan, maka kemajuan yang kita capai tidak akan banyak gunanya, bahkan dapat membawa kita kearah keruntuhan.
  7. Selain itu, tanpa nilai-nilai Keadilan Sosial, maka kemajuan yang kita capai akan membuka kesenjangan sosial dan menimbulkan keresahan.
  8. Penguasaan Iptek tanpa mengindahkan sistem nilai yang berlaku akan melahirkan sarjana yang bersedia memanipulasikan Iptek, sehingga pengajaran Iptek haruslah disertai dengan penghayatan sistem nilai bangsa (Pancasila).
  9. Penguasaan Iptek yang disertai dengan penghayatan Pancasila akan menghasilkan generasi bangsa yang tangguh, berdaya saing tinggi dan kuat dalam menghadapi persaingan global.

Harapan

  1. Masyarakat harus memiliki Wawasan Kebangsaan yang berintikan 4 Konsensus Dasar berbangsa  untuk membangun semangat kebangsaan/nasionalisme, serta harus diwujudkan dalam karya nyata agar dapat menangkal ancaman narkoba, terorisme, faham radikal dan cyberwar, sehingga dapat memberikan kontribusi positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
  2. Kita harus bisa menjadi agen perubahan dengan pendidikan Bela Negara agar mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan kelompok dan pribadi;
  3. Kita perlu membangun persaudaraan, toleransi, kerukunan dan harmoni di bumi pertiwi ini. Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjadikan Indonesia yang penuh ketentraman, kedamaian, dan harapan terhadap masa depan yang cerah;
  4. Mari kita perkuat pendidikan kesadaran Bela Negara  di Lembaga Pendidikan Islam  dari mulai di tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa. [yetti]

Peta Lokasi

Akses Cepat

Kementerian Agama
Website resmi Kemenag RI

DJJ Pusdiklat Teknis
Diklat Jarak Jauh Pusdiklat Teknis

Badan Litbang dan Diklat
Website resmi Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

Video Terkini

Video lainnya klik disini