Jadwal Diklat

jadwal diklat

Berita Lain

Simdiklat 1

DJJ AKD

Widyaiswara Yang Profesional Adalah Widyaiswara Yang Komitmen

Oleh Epa Elfitriadi

Tidak berlebihan jika ada ungkapan bahwa widyaiswara adalah pembawa kebenaran, atau sebagaimana arti harfiahnya adalah suara yang baik (widya=baik, iswara=suara). Ungkapan tersebut menunjukkan harapan yang besar terhadap widyaiswara agar widyaiswara dapat menyuarakan kebenaran, mengajarkan nilai-nilai luhur dan akhlak mulia. Dalam berbagai peraturan yang dikeluarkan Lembaga Administrasi Negara (LAN), widyaiswara didefinisikan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih (dikjartih) PNS, serta kegiatan Evaluasi dan Pengembangan Diklat pada Lembaga Diklat Pemerintah. Definisi tersebut memperjelas salah satu fungsi widyaiswara sebagai pendidik di dunia kediklatan, seperti sosok seorang guru di sekolah atau dosen di perguruan tinggi.

Itulah sebabnya profesi widyaiswara sesungguhnya merupakan profesi yang mulia dan berperan sebagai agen perubahan (agent of change) dalam pembinaan dan pengembangan SDM aparatur pemerintah. Sebagai profesi yang berbasis pada pengetahuan, widyaiswara dituntut memiliki sikap profesionalisme dalam setiap diri widyaiswara. Yang berarti adanya kesadaran permanen agar selalu meng-update dirinya dengan wawasan, ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai kondisi yang dihadapinya. Sebagaimana disebutkan Jack Showman, Ric McCown, Robert Biehler dkk dalam Psychology Applied to Teaching (2012), bahwa (1) mengajar adalah pekerjaan yang sangat kompleks dan membutuhkan pengetahuan yang luas, (2) praktik mengajar di dalam kelas harus selalu ditopang dan disegarkan hasil riset secara terus menerus, dan (3) selalu updating dengan hasil-hasil riset, baik yang dibuat sendiri maupun yang dibacanya. Jika demikian halnya, maka tidak akan ada lagi kalangan yang mempersepsikan widyaiswara sebagai pejabat buangan, korban politisasi jabatan, dan dipertanyakan kadar intelektualitasnya.

Tiga Level Komitmen

Profesionalisme merupakan komitmen para anggota profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. Di dalamnya terkandung kepiawaian atau keahlian dalam mengoptimalkan ilmu pengetahuan, keterampilan, waktu, tenaga, sumber daya, dan strategi pencapaian yang bisa memuaskan semua elemen. Dalam hal ini, profesionalisme widyaiswara berkaitan erat dengan komitmen widyaiswara untuk senantiasa meningkatkan kualitas profesi kewidyaiswaraannya. Dengan demikian, seorang widyaiswara dapat dikatakan profesional jika widyaiswara tersebut memiliki komitmen yang baik terhadap jabatannya.

Komitmen itu sendiri, menurut Cut Zurnali (2010) dalam Learning Organization, Competency, Organizational Commitment, dan Customer Orientation: Knowledge Worker, teridentifikasi kedalam tiga komponen/lapisan. Pertama, komitmen normatif atau prosedural. Yaitu komitmen yang merupakan hasil refleksi perasaan atas kewajiban dan tanggung jawab untuk menjadi anggota sebuah organisasi. Perasaan seperti itu memotivasi individu untuk bertingkah laku baik dan bertindak tepat bagi organisasinya. Komitmen normatif ini berkembang seiring dengan pengalaman sosialisasi, tergantung sejauh mana perasaan kewajiban dan tanggung jawab tugas yang dimiliki pegawai tersebut. Boleh jadi pegawai dengan tipe komitmen normatif ini akan bergerak atau bekerja jika ada surat tugas/SK terlebih dahulu, apalagi SK yang “berlampiran”. Pegawai dengan tipe komitmen ini tetap tinggal dan loyal terhadap organisasi karena aspek moralitas, harus mengerjakan kewajiban dan tanggung jawab pekerjaannya dalam organisasi.

Kedua, komitmen kontinuan atau komitmen rasional. Yaitu komitmen yang berdasarkan persepsi individu tentang kerugian yang akan dihadapinya jika meninggalkan organisasi. Seorang pegawai tetap bertahan atau meninggalkan organisasi berdasarkan pertimbangan untung rugi yang diperolehnya. Pegawai dengan tipe komitmen ini akan tetap bergabung dengan organisasi karena membutuhkan organisasi atau alasan kebutuhan hidup. Individu pegawai merasa terikat pada kegiatan-kegiatan organisasi karena merasa investasinya di masa lalu seperti waktu, usaha, keterampilan dan persahabatan akan hilang jika pegawai tersebut meninggalkan organisasinya. Dalam komitmen kontinuan setiap orang berbicara tentang apa yang dapat disumbangkan untuk organisasinya. Apakah betul pengabdiannya sebagai pejabat fungsional semakin baik atau semakin tidak baik.

Ketiga, komitmen afektif. Komitmen ini berkaitan dengan emosional, identifikasi dan keterlibatan individu di dalam suatu organisasi. Pegawai dengan tipe komitmen afektif memiliki keterikatan emosional dan menikmati perannya dalam oraganisasi. Pegawai tersebut memiliki motivasi dan keinginan untuk berkontribusi terhadap organisasi, tidak lagi membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi, sebab telah melebur dalam satu jiwa. Pegawai tersebut akan mengidentifikasikan dirinya dengan nilai dan tujuan organisasi, dan ingin mempertahankan keanggotaannya.

Perbaikan Terus Menerus

Jika melihat hal tersebut, maka widyaiswara profesinoal adalah widyaiswara yang terikat dengan komitmen tersebut. Pada tataran normatif, seorang widyaiswara dengan perannya sebagai agen dalam pembinaan pegawai ASN, sepantasnya menjadi terdepan dalam mempraktikkan bagaimana komitmen normatif, komitmen kontinuan dan komitmen afektif diterapkan secara benar. Widyaiswara yang memiliki komitmen yang tinggi, baginya tiada hari tanpa memperbaiki kapasitas. Idealnya saat tidak ada jadwal dikjartih, maka pekerjaan-pekerjaan lain tetap diselesaikan, dengan memperkaya bahan, mengembangkan bahan-bahan yang ada, mengeksplorasi ilmu pengetahuan relevan, melakukan berbagai penelitian dan kegiatan lain sesuai ruang lingkup tugasnya.

Profesionalisme widyaiswara menuntut dirinya untuk berkomitmen selalu mengembangkan wawasan dan meningkatkan potensi diri seiring dengan perubahan lingkungan strategis. Termasuk, dalam hal kemampuan berpikir ilmiah dan analitis yang saat ini menjadi penting dan sangat dibutuhkan seorang widyaiswara jika melihat kondisi pada tataran nasional maupun global yang semakin dinamis. Kompetensi dalam berpikir ilmiah dan analitis dapat dikembangkan melalui kegiatan penulisan karya tulis ilmiah maupun analisis kasus.

Oleh karena itu juga Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan mengagendakan program diklat untuk menempa peningkatan kualitas  widyaiswara di lingkungan Kementerian Agama. Diantaranya, Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Madya yang memfokuskan pada penguatan kemampuan berpikir ilmiah dan perancangan penelitian ilmiah kediklatan; Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Utama yang lebih memfokuskan pada aspek kemampuan peran widyaiswara sebagai konsultan kediklatan; dan Diklat Kewidyaiswaraan Materi Karya Tulis Ilmiah yang lebih memfokuskan pada kemampuan berpikir ilmiah dan penulisan karya ilmiah hasil penelitian kediklatan.

Perbaikan kapasitas diri tersebut dilakukan secara terus menerus. Baik melalui program pengembangan pegawai yang telah diagendakan lembaga diklat maupun melalui aktivitas pengembangan diri yang dilakukan secara mandiri oleh individu widyaiswara. Peran dan tanggung jawab besar yang diemban widyaiswara sebagai agen perubahan dalam pengembangan dan pembinaan SDM aparatur pemerintah merupakan bagian integral dari sistem kediklatan. Baik buruknya kualitas lulusan diklat dapat dikatakan sangat terkait dengan peran widyaiswara dalam proses pembelajaran. Sehingga dirinya harus mampu memposisikan sebagai role model yaitu individu yang bisa dijadikan contoh dalam prestasi kerjanya, pola pikirnya (mind-set) dan budaya kerjanya (culture-set). Berkomitmen untuk tiada henti memperbaiki kapasitasnya agar menjadi profesional. Sebab, widyaiswara yang profesional adalah widyaiswara yang komitmen. [elf]

Peta Lokasi

Akses Cepat

Kementerian Agama
Website resmi Kemenag RI

DJJ Pusdiklat Teknis
Diklat Jarak Jauh Pusdiklat Teknis

Badan Litbang dan Diklat
Website resmi Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

Video Terkini

Video lainnya klik disini