Jadwal Diklat

jadwal diklat

Berita Lain

Simdiklat 1

DJJ AKD

Analisis Pembelajaran Terpadu pada Mata Pelajaran IPS di MTsN Kec. Serang Kota Serang Banten

Oleh Aminullah

siswa belajarAbstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pelaksanaan pembelajaran terpadu pada mata pelajaran IPS di kelas VII MTs Negeri I Kota Serang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriftif dengan bentuk penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi langsung, komunikasi langsung, dan studi dokumenter, dengan alat pengumpul data yaitu lembar observasi, pedoman wawancara, dan dokumen. Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan pembelajaran terpadu pada mata pelajaran IPS belum benar-benar di laksanakan secara terpadu sesuai teori pelaksanaan pembelajaran terpadu. Hal ini dapat dilihat dari konsep pelaksanaan pembelajaran dalam tahap persiapan tidak mengintegrasikan Kompetensi Dasar (KD) yang berpotensi untuk dipadukan. sehingga dalam tahap pelaksanaan, materi yang di sampaikan pun tidak terintegrasi.

Kata Kunci : Pembelajaran Terpadu, mata Pelajaran IPS

 

PENDAHULUAN

Kurikulum Bebrasis Kompetensi menuntut adanya pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan model pembelajaran terpadu pada pendidikan tingkat sekolah menengah pertama. Yang mana mata pelajaran IPS dengan model K 2 pembelajaran terpadu ini kemudian sering kita sebut dengan IPS terpadu. Tidak berbeda dengan kurikulum KTSP, pelaksanaan pembelajaran IPS dalam kurikulum 2013 yang di terapkan saat ini juga menuntut adanya keterpaduan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) meliputi bahan kajian Sosiologi, Sejarah, Geografi dan Ekonomi. Bahan kajian tersebut menjadi mata pelajaran yang harus dipadukan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di tingkat SMP/MTs. Meskipun telah cukup lama pelaksanaan pembelajaran IPS terintegrasi (terpadu) ini dilaksanakan, akan tetapi segelintir masalah dari pelaksanaan pembelajaran IPS Terpadu masih belum dapat diselesaikan oleh pihak-pihak terkait.

Pelaksanaan pembelajaran IPS Terpadu di SMP/MTs sebagian besar masih dilaksanakan secara terpisah. Pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS masih dilaksanakan sesuai dengan bidang kajian masing - masing (sosiologi, sejarah, geografi, dan ekonomi) tanpa ada keterpaduan didalamnya. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain: Pertama, Kurikulum IPS itu sendiri belum menggambarkan satu kesatuan yang terintegrasi, melainkan masih terpisah antar bidang-bidang ilmu sosial. Kedua, Latar belakang guru yang mengajar di sekolah merupakan guru yang berasal dari disiplin ilmu tertentu seperti sejarah, geografi, ekonomi dan sosiologi. Sehingga mengalami kesulitan untuk melaksanakan pembelajaran dengan mengintegrasikan antar disiplin ilmu dalam bidang IPS tersebut. Ketiga, Sarana dan Prasarana pendukung yang ada di lapangan seperti buku paket yang beredar juga belum terpadu, materi yang disajikan masih dalam bab-bab yang terpisah, meskipun berada dalam satu buku yang sama. Tiga masalah tersebut menuntut adanya kreatifitas yang tinggi dari seorang guru dalam merancang atau merencanakan serta melaksanakan kegiatan pembelajaran agar tujuan dari pelaksanaan pemebelajaran IPS Terpadu “pembelajaran Terpadu merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik (Trianto, 2012)” dapat tercapai.

Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang oleh guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi peserta didik. Pengalaman belajar lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Williams (dalam Trianto 2012) berpendapat bahwa kaitan koseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian yang relevan akan membentuk skema (konsep), sehingga peserta didik akan memperolah keutuhan dan kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu.

Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu dalam hal ini dapat mengambil satu topik bahasan dari suatu cabang ilmu sosial yang kemudian dilengkapi, diperluas, diperdalam dan dibahas dengan 3 memasukkan cabang ilmu sosial lainnya (Trianto, 2012). Terdapat tiga cara dalam mengintegrasikan materi pada pembelajran IPS Terpadu, yaitu:

1) Model Integrasi Berdasarkan Topik dalam pembelajaran IPS, keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya “Kegiatan ekonomi penduduk". Kegiatan ekonomi penduduk dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS. Kegiatan ekonomi penduduk dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara sosiologis, Kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi sosial di masyarakat atau sebaliknya. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Selanjutnya penguasaan konsep tentang jenis-jenis kegiatan ekonomi sampai pada taraf mampu menumbuhkan krteatifitas dan kemandirian dalam melakukan tindakan ekonomi dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi.

2) Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS .

3) Model Integrasi Berdasarkan Masalah Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Tenaga Kerja Indonesia”. Pada pembelajaran terpadu, Tenaga Kerja Indonesia ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor geografi, ekonomi, sosiologi, dan historis.

Langkah-langkah pembelajaran IPS terpadu adalah sebagai berikut:

1) Tahap Perencanaan Trianto (2012) mengatakan bahawa untuk menyusun perencanaan Pembelajaran IPS Terpadu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: (a) Pemetaan Kompetensi Dasar; (b) Penentuan Topik/tema; (c) Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar kedalam indikator sesuai topik/tema; (d) Pengembangan silabus; (e) Penyusunan desain pembelajran atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

2) Tahap Pelaksanaan Dalam tahap pelakasanaan terdapat 3 (tiga) kegiatan yang harus dilaksanakan. Pertama, Kegiatan Pendahuluan. menurt Udin S. winataputra, dkk (dalam Akhmad Sudrajat 2008) menyatakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan pendahuluan yaitu: (a) Menciptakan kondisi awal pembelajaran; 4 meliputi: membina keakraban, menciptakan kesiapan belajar peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang demokratis. (b) Appersepsi meliputi: kegiatan mengajukan pertanyaan untuk mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi atau pengetahuan yang telah dikuasai siswa sebelumnya, memberikan komentar atas jawaban yang diberikan peserta didik dan membangkitkan motivasi dan perhatian peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kedua, Kegiatan Inti. Menurut Depdikas (2006), ada tiga bentuk kegiatan inti yaitu: (a) Merupakan usaha memperoleh atau mencari informasi baru. Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan eksplorasi yaitu memperkenalkan materi atau keterampilan baru, mengaitkan materi dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik serta mencari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaan peserta didik akan materi baru tersebut. (b) Merupakan negosiasi dalam rangka mencapai pengetahuan baru. Dalam kegiatan konsolidasi pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajar baru; melibatkan peserta didik secara aktif dalam pemecahan masalah; melatakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi pelajaran yang baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan didalam lingkungan serta mencari metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik.

Merupakan pemprosesan pengetahuan menjadi nilai, sikap dan prilaku. Yang perlu diperhatikan dalam pembentukan sikap dan prilaku, adalah peserta didik di dorong untuk menerapkan konsep atau pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari; peserta didik membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari; serta cari metodologi yan paling tepat, agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku peserta didik. Terakhir, Kegiatan Penutup. Trianto (2012) menyatakan, Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu yaitu: (a) Melaksanakan dan mengkaji penilaian akhir; (b) Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran melalui kegiatan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan dirumah, menjelaskan kembalai bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi atau bimbingan belajar; dan (c) Mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang, dan menutup kegiatan pembelajaran.

3) Tahap Evaluasi Tahap evaluasi atau tahap penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis, dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. (Trianto, 2012).

METODE

Metode Penelitian yang digunakan adalah metode Deskriftif.  Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Hadari Nawawi, 2012).

Bentuk penelitian yang di gunakan adalah studi kasus, yaitu memusatkan diri secara intensip terhadap satu obyek tertentu, dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus (Hadari Nawawi, 2012). Dengan demikian, studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan untuk meneliti dan mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran Terpadu pada Mata Pelajaran IPS di kelas VII MTs  N I Kecamatan Serang Kota Serang.

Menurut Lofland dan Lofland (dalam Lexi J. Moleong 2013) Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sedangkan Menurut Suharsimi Arikunto (2006) menyatakan bahwa sumber data adalah subjek darimana data diperoleh. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat dimaknai bahwa sumber data dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VII MTs Negeri I Kecamatan Serang Kota Serang, yaitu Ibu Leni S.Sos. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi langsung, komunikasi langsung, dan studi dokumenter, dengan alat pengumpul data yaitu lembar observasi, pedoman wawancara, dan dokumen.

Observasi langsung yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada obyek penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa, keadaan atau situasi sedang terjadi. Dengan menggunakan alat pengumpul data yaitu lembar pengamatan. Lembar pengamatan adalah alat pengumpul data berupa daftar check list yang memuat gejala-gejala yang akan diamati saat pengamatan berlangsung, Dalam hal ini yang diamati adalah pelaksanaan pembelajaran IPS secara Terpadu yang dilakukan oleh guru mata pelajaran IPS dikelas VII MTs N I Kecamatan Serang Kota Serang.

Teknik komunikasi langsung adalah berupa pengumpulan data melalui hubungan langsung dengan sumber data. yaitu dengan melakukan wawancara terhadap sumber data. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) Yang megajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

Wawancara dalam hal ini dilakukan dengan berpedoman pada pedoman wawancara yang telah disusun. Pedoman wawancara yaitu seperangkat pertanyaan yang mengacu kepada permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini penulis melakukan komunikasi langsung melalui wawancara dengan guru mata pelajaran IPS Terpadu kelas VII MTs N I Kecamatan Serang Kota Serang sebagai sumber data. Teknik studi dokumenter yaitu pengumpulan data melalui bahan-bahan tertulis  yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Dalam hal ini penulis datang keMadrasah untuk melihat dan meminta kesediaan pihak Madrasah, terutama guru mata pelajaran IPS Terpadu untuk memberikan dokumen yang dibutuhkan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Dokumen tersebut yaitu berupa arsip-arsip yang ada di MTs Negeri I Kecamatan Serang Kota Serang yang dapat menunjang penelitian ini.

Teknik Analisis data kualitatif yang penulis laksanakan adalah dengan melakukan tiga kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (conclition). Peneliti melakukan pemilihan dan pemusatan perhatian untuk penyederhanaan, abstraksi dan transformasi data kasar yang diperoleh. Data hasil observasi dan wawancara dipilih dan dikelompokkan berdasarkan kegiatan persiapan atau permulaan pembelajaran, pelaksanaan atau penjelasan materi pembelajaran dan kegiatan evaluasi pembelajaran. Peneliti mengembangkan sebuah deskripsi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. display data atau penyajian data yang lazim digunakan pada langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif. Dalam penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, hasil dari analisis data yang sudah dipilih dan dikelompokkan sebagai data untuk menjawab masalah penelitian. Dan selanjutnya peneliti berusaha menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi dengan mencari makna setiap gejala yang diperoleh dari lapangan.


Download file selengkapnya .... icon download

Peta Lokasi

Akses Cepat

Kementerian Agama
Website resmi Kemenag RI

DJJ Pusdiklat Teknis
Diklat Jarak Jauh Pusdiklat Teknis

Badan Litbang dan Diklat
Website resmi Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

Video Terkini

Video lainnya klik disini