Jadwal Diklat

jadwal diklat

Berita Lain

Simdiklat 1

DJJ AKD

Menjadi Widyaiswara, Mengapa Takut?

Oleh Martatik *)

112015 WI MadyaMenjadi widyaiswara menuntut kompetensi khusus berkaitan dengan tugas melakukan kegiatan dikjartih (mendidik, mengajar dan melatih) di kelas pelatihan. Melakukan dikjartih di dunia pelatihan, berbeda dengan dikjartih di sekolah-sekolah formal. Peserta dalam kelas pelatihan adalah orang dewasa. Sehingga meskipun seseorang memiliki berbagai pengalaman mengajar di sekolah, tidak serta merta menjadi lancar ketika harus mengajar di kelas pelatihan.

Orang dewasa memiliki self direction (kemampuan mengarahkan dirinya sendiri) yang sudah matang. Orang dewasa memerlukan penghargaan dari orang-orang di sekitarnya. Mereka akan menolak mengikuti pembelajaran jika tidak menemukan situasi dan kondisi yang mendukung bagi pengembangan diri mereka. Mereka juga tidak akan tertarik mengikuti pelatihan, jika materi yang didapatkan kurang bermanfaat dan tidak bisa diapilkasikan dalam kehidupan sehari-hari. Orang dewawsa belajar dari pengalaman, sehingga metode yang digunakan adalah metode yang mampu menggali pengalaman yang mereka miliki sebagai sumber belajar.

Kondisi iniah yang menuntut para widyaiswara memiiki rasa keyakinan diri yang tinggi, serta harus memiliki pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang tepat dalam peatlihan, disamping harus menguasai substansi materi. Hal ini juga yang menyebabkan sebagian caon widyaiswara merasa gamang ketika harus melanjutkan karirnya sebagai widyaiswara, karena mereka merasa beum memiliki kompetensi yang cukup untuk melaksanakan tugas dan fungsi widyaiswara. Sementara pendidikan dan pelatihan (diklat) yang mengarah kepada persiapan menjadi widyaiswara dirasa masih sangat kurang bagi para calon widyaiswara. Perasaan seperti ini bukan hanya dirasakan oleh calon-calon widyaiswara saja. Mereka yang sudah menjadi widyaiswara pun mengalami hal yang sama, ketika harus berhadapan dengan peserta pelatihan, sementera pengalaman di bidang tersebut masih kurang.

Bagaimana memperkuat rasa keyakinan diri (self efficacy) widyaiswara? Albert Bandura, seorang psikolog berkebangsaan Kanada dalam teorinya tentang pembelajaran sosial memperkenalkan konsep self-efficacy sebagai penilaian seseorang tentang kemampuan dirinya dalam melakukan tugas tertentu. Keyakinan ini mempengaruhi motivasi dalam bertindak, usaha yang dilakukan, ketekunan dan mekanisme bertahan dalam menghadapi kegagalan.

Kreitner dan Kinichi dalam bukunya mengatakan bahwa, terdapat beberapa karakteristik orang yang memiliki bentuk self-efficacy tinggi yaitu lebih aktif, mampu belajar dair masa lampau, mampu merencanakan tujuan dan membuat rencana kerja, lebih kreatif menyelesaikan masalah sehingga tidak merasa stres serta selalu berusaha lebih keras untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal. Bentuk tersebut membuat individu lbih sukses dalam pekerjaan dibandingkan individu yang mempunyai self-efficacy yang rendah dengan ciri-ciri yaitu pasif dan sulit menyelesaikan tugas, tidak berusaha mengatasi masalah, tidak mampu belajar dari masa lalu, selalu merasa cemas, sering stres dan terkadang depresi.

Kondisi tersebut di atas, diperkuat oleh pendapat Bandura yang mengatakan bahwa individu yang memiliki self-efficacy tinggi, memiliki sikap optimis, suasana hati yang posifit, dapat memperbaiki kemampuan untuk memproses informasi secara lebih efisien, memiliki pemikiran bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang merugikan namun justru memotivasi diri untuk melakukn yang lebih baik. Sedangkan individu yang memiliki efikasi diri rendah, memiliki sikap pesimis, suasana hati yang negatif yang meningkatkan kemungkinan seseorang menjadi marah, merasa bersalah, dan memperbesar kesalahan mereka.

Self efficacy dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: penguasaan pengalaman, modelling (meniru), persuasi verbal, kondisi psikologis dan emosional dan emosional.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan rasa keyakinan diri antara lain sebagai berikut:

Pertama, kuasai pengalaman.

Cara yang paling efektuf untuk menumbuhkan rasa self-efficacy widyaiswara adalah dengan menguasai pengalaman. Pelatihan-pelatihan tentang bagaimana melakukan tugas kewidyaiswaraan akan memberikan pengetahuan kepada widyaiswara. Setelah mendapatkan pengetahuan, widyaiswara harus mengamalkan apa yang dia miliki, sehingga dia memiliki pengalaman telah berhasil melakukan suatu tugas. Perasaan tentang keberhasilan inilah yang akan meningkatkan keyakinan dirinya. Jika dia merasa bahwa keberhasilannya adalah karena keberuntungan, karena faktor teman, karena kondisinya ideal, dan sebagainya, maka tidak akan banyak manfaatnya. Secara psikologis hal ini tidak akan menambah rasa keyakinannya tentang kemampuan dirinya melakukan tugas dan fungsinya. Dia harus berfikir bahwa keberhasilan dalam kinerjanya adalah hasil dari usahanya sendiri, sehingga dia bisa mengatakan pada dirinya bahwa "tugas ini mudah, dan saya mampu melakukannya". 

Lantas, apa implikasinya dalam pelatihan? Bagi widyaiswara pemula, lakukan praktik mandiri yang cukup sehingga penguasaan keterampilan dapat tercapai bahkan terlampaui serta mintalah umpan balik dari orang lain tenttang kemajuan yang dicapai. Dengan kata lain, latihan saja tidak cukup. Latihan di sini juga harus disertai dengan umpan balik informasi tentang kemajuan kinerja yang dicapai. Latihan harus dirancang untuk mencapai serangkaian keberhasilan dan harus ada konsekuensi positif terhadap keberhasilan yang dicapai. Selain itu lingkungan pembelajaran juga harus memberikan kesempatan kepada para pembelajar untuk melakukan refleksi (penilaian terhadap tingkat kompetensi mereka).

Kedua, lakukan tes diagnostik.

Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut berupa perlakukan yang tepat sesuai dengan kelemahan/masalah yang dimilikinya. Ini adalah salah satu cara untuk memberikan umpan balik positif terhadap kekurangan seseorang. Banyak orang yang menafsirkan umpan balik negatif sebagai indikasi kekurangan diri dan menganggap kegagalan itu disebabkan karena mereka tidak memiliki bakat, bahkan bisa menyalahkan orang lain atas keterbatasan mereka. Dalam tes diagostik ini, umpan balik dan kekurangan seseorang dijadikan informasi/data yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja.

Implikasinya bagi para widyaiswara: pertama, bagi widyaiswara yang lebih berpengalaman agar membantu widyaiswara pemula dalam meningkatkan kinerjanya dan memberikan umpan balik yang positif terhadap perkembangan kinerjanya, misalnya dengan mengatakan "Anda belum bekerja semaksimal potensi Anda", "Anda dapat melakukan lebih baik dari itu". "Anda masih punya jalan panjang untuk maju". Kedua, jangan sengaja membuat widyaiswara merasa gagal di depan umum. Jika mereka kebetulan memiliki self-efficacy yang rendah, kegagalan seseorang akan lebih merusak, tidak hanya untuk pelaku, tetapi juga untuk pengamat yang memiliki self-efficacy rendah. Misalnya, tidak memaksa widyaiswara tampil di depan kelas sebelum meyakinkan bahwa dia memiliki keterampilan dan keyakinan diri yang cukup untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Ketiga, buatlah tujuan jangka pendek. Orang akan merasa lebih percaya diri ketiga memiliki target tujuan jangka pendek, dari pada tujuan jangka panjang. Proses ini akan memberikan kesempatan lebih banyak untuk lebih percaya diri dalam kemampuan mereka dalam mencapai tujuan jangka pendek daripada yang jauh. Proses ini juga memberikan lebih banyak kesempatan untuk penguatan tumbuhnya kompetensi.

Ketiga, pemodelan.

Keyakinan diri (self-efficacy) dapat ditingkatkan ketika widyaiswara melihat dan memperhatikan widyaiswara lain melakukan tugas yang sama dengan kompetensi yang dimilikinya. Pemodelan dapat memberikan banyak informasi tentang bagaimana tugas harus dilakukan dan menunjukkan cara yang efektif untk mengatasi masalah yang dihadapi. Akan tetapi informasi yang didapatkan dari pemodelan juga harus bisa diinterpretasikan dengan benar, bahwa keahlian yang dimiliki oleh model adalah karena faktor keterampilan yang bisa dipelajari, bukan karena faktor bawaan. Model yang memiliki kemiripan yang dekat dengan pemodel memberikan efek yang besar. Ada dua dimensi kemiripan, yaitu kemiripan dari sisi kinerja, model menunjukkan kinerja yang sama dengan pekerjaan pemodel yang ingin dipelajari. Dimensi yang kedua adalah kemiripan dari sisi atribut, misalnya: jenis kelamin, usia, karakteristik psikologis, dan sebagainya yang mirip dengan pemodelnya.

Keempat, persuasi sosial.

Keyakinan diri dipengaruhi oleh persuasi sosial, oleh komentar dan tindakan orang lain. Sebagaimana diketahui, ada efek yang kuat dari komentar-komentar yang tidak menyenangkan terhadap kepercayaan diri. Akan tetapi teknik serupa bisa digunakan untuk memperkuat kepercayaan diri. Yang harus difahami adalah bahwa komentar dan tindakan kita akan selalu berpengaruh terhadap keyakinan diri kita, baik yang positif maupun yang negatif. Karena itu kita harus berhati-hati dalam berkomentar dan bertindak ketika kita sedang berhadapan dengan seseorang. Komentar yang sedikit bisa mempunyai efek yang besar, dan karenanya umpan balik yang dilontarkan seseorang bisa emiliki efek yang sangat besar terhadap keyakinan diri (self-efficacy) maupun persistensi seseorang.

Implikasinya bagi widyaiswara: team teaching merupakan salah satu solusi bagi peningkatan kepercayaan diri widyaiswara. Team teaching terdiri dari widyaiswara senior yang sudah memiliki banyak "jam terbang" dan widyaiswara pemula. Widyaiswara pemula harus mempersiapkan diri untuk tampil sukses, sementara bagi senior untk menginterpretasikan pencapaian prestasi mereka sebagai bukti atas peningkatan kompetensinya. Misalnya dengan mengatakan, "Anda mampu melakukan pekerjaan melebihi target" atau "perkembangan Anda lebih cepat dari yang seharusnya Anda capai".

Pengetahuan tentang self-efficacy dapat membantu widyaiswara memikirkan cara-cara mereka mendekati tugas dalam kelas termasuk bagaimana akurasi mereka dalam mengidentifikasi tingkat tantangan tugas. Pengetahuan ini juga membantu mereka mengetahui sejauh mana mereka mencoba untuk memecahkan masalah yang komplek serta mengelola tugas yang menantang. 

Widyaiswara dapat memikirkan car auntuk melaksanakan tugas secara terstruktur (misalnya memilih kegiatan, menggunakan strategi baru/metode) sedemikian rupa yang memungkinkan mereka lebih berkembang secara profesional dan merasa kompeten. Selain itu, widyaiswara harus reflektif tentang wilayah dimana mereka merasa paling kompeten.

Rendahnya self-efficacy dapat membuat seseorang rentan terhadap stres dan depresi. Karena efek dari rendahnya self-efficacy bisa melemahkan dan efek dari self-efficacy yang tinggi bisa memampukan seseorang, maka penting bagi widyaiswara untuk berusaha memperkuat self-efficacy-nya. Hal ini bisa dilakukan bersama-sama membangun situasi dan kondisi yang mendukung pengembangan diri ke arah yang semakin positif. []

__________________________________

*) Widyaiswara pada Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan

Peta Lokasi

Akses Cepat

Kementerian Agama
Website resmi Kemenag RI

DJJ Pusdiklat Teknis
Diklat Jarak Jauh Pusdiklat Teknis

Badan Litbang dan Diklat
Website resmi Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

Video Terkini

Video lainnya klik disini