Jadwal Diklat

jadwal diklat

Berita Lain

Simdiklat 1

DJJ AKD

Diklat Berbasis Ta'dib

 

Oleh Epa Elfitriadi

ddtk18 23

Hingga dewasa ini, suasana kehidupan modern dan kebudayaan yang mengglobal telah menyentuh lapisan masyarakat sampai ke berbagai pelosok negeri. Perkembangan dan kemajuan IPTEK mengakibatkan munculnya nilai-nilai baru, positif maupun negatif. Dampaknya, manusia kembali berhadapan dengan masalah klasik mengenai jati-diri dan tujuan hidupnya. Samarnya jati diri dan tujuan hidup manusia telah mengakibatkan berbagai kejahatan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai. Ironisnya kejahatan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai saat ini justru banyak dilakukan oleh golongan yang seharusnya memberikan teladan kepada masyarakat luas. Golongan tersebut adalah kaum terpelajar, pengusaha, dan pejabat atau yang dikenal dengan sebutan penjahat kerah putih (white collor crime). Idealisme mereka telah lumpuh terbius oleh hedonisme kekuasaan dan moral yang telah tergadaikan. Kejahatan kaum kerah putih tentu lebih berbahaya daripada yang dilakukan oleh kaum kerah biru (blue color crime), yaitu golongan yang menempati strata rendah, kaum kurang terdidik atau kurang terpelajar. (Soekanto, 1995).

Jika dikaitkan dengan pendidikan, hal itu menunjukkan rapuhnya landasan moral dan nilai-nilai dalam dunia pendidikan. Kualitas pendidikan masih difokuskan untuk pemenuhan komoditas “perut” yang sarat dengan nilai-nilai hedonis. Padahal Ali bin Abi Thalib ra. telah mengingatkan: “Barangsiapa yang kecenderungannya hanya pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perutnya”. Kerapuhan sistem pendidikan ini bisa jadi karena belum terjalankannya pendidikan yang sebenarnya. Sebagaimana menurut Syed M. Naquib al-Attas, pembelajaran dan proses mempelajari berbagai keterampilan hidup belum bisa dikatakan sebagai pendidikan yang sebenarnya jika belum ada "sesuatu" (adab) di dalamnya. Kemudian ta’dib diperkenalkannya sebagai konsep pendidikan yang diharapkan dapat mencetak manusia yang beradab yang dengannya dapat terhindar diri dari sifat-sifat kezhaliman, kebodohan, dan kegilaan. (al-Attas, 1980). Penekanan adab dalam pendidikan dan proses pendidikan, ditujukan untuk menjamin ilmu yang diperoleh peserta didik akan dipergunakan secara baik di dalam masyarakat. Sehingga orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan oleh al-Attas sebagai orang yang beradab.

Pendidikan Berbasis Ta’dib

Kata ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’dib yang artinya pendidikan (education) disiplin, patuh dan tunduk pada aturan (discipline) peringatan atau hukum (punishment), hukuman-penyucian (chastisement) (Abudin Nata, 2010). Ada juga yang memberikan arti ta’dib yang berarti beradab, bersopan santun, tata karma, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika. (Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakir. 2006). Sedangkan al-Attas mengartikan ta’dib yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan peradaban dan kebudayaan sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentangtempat yang tetap dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. Ta’dib menurut beliau sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilmu), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah) (Wan M. Nor Wan Daud, 1998).

Maksud "pengenalan" dalam definisi di atas adalah mengetahui kembali perjanjian pertama antara manusia dan Tuhan. Karena, semua penciptaan memiliki makna dan tujuannya tersendiri, yang hanya dimengerti dengan ilmu, dan dihadapi dengan adab yang baik. Maksud "pengakuan" di atas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah dikenal di atas, yang berupa afirmasi dan konfirmasi atau realisasi dan aktualisasi dalam diri manusialah yang dikenal itu, yang tanpanya maka pendidikan menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sekedar proses belajar. Kemudian, yang dimaksud sebagai “tempat yang tepat” adalah kedudukan dan kondisinya dalam alam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakatnya. Dengan demikian, manusia dalam mengaktualisasikan dirinya harus mengetahui terlebih dahulu kedudukan dan tujuan hidupnya di dunia -berdasarkan kriteria al-Qur'an tentang ilmu, akal dan kebaikan (ihsan)- yang selanjutnya mesti bertindak sesuai dengan ilmu pengetahuan secara positif, dipujikan dan terpuji (al-Attas, 1980). Dengan bahasa lain ta’dib dapat diartikan kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik dan berorientasi pada upaya pembentukan pribadi yang berakhlak mulia sesuai kriteria ajaran agama. Makna yang dikandung dengan istilah ta’dib, tidak terbatas hanya pada aspek kognitif, tetapi juga meliputi pendidikan spiritual, moral dan sosial.

Dalam konsep ta’dib, adab merupakan suatu upaya untuk mendisiplinkan diri manusia, yang meliputi disiplin pikiran, disiplin jiwa dan disiplin badan. Seseorang yang memiliki adab akan mampu mencegah dirinya dari kesalahan-kesalahan, karena dengan menggunakan kecerdasan yang dimilikinya, ia akan memikirkan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu perbuatan sesuai dengan nilai-nilai atau ketentuan-ketentuan yang berlaku. Jika seorang itu telah beradab, secara otomatis telah memiliki ilmu benar dan mempunyai tujuan kehidupan yang jelas mencakup spritual dan material. Oleh karena itu, adab dalam kerangka pendidikan, merupakan unsur terpenting yang melekat dalam kandungan suatu pendidikan. Sebab, menurut al-Attas ilmu tidak dapat dipindahkan atau diajarkan (tranfer of knowledge) dengan sempurna oleh seorang guru kepada muridnya dalam proses pendidikan kecuali jika telah mempunyai adab terhadap pelbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan.

Adab dalam ilmu pengetahuan akan menghasilkan cara-cara yang tepat dan benar dalam belajar dan penerapan berbagai bidang sains. Seirama dengan ini, rasa hormat terhadap para sarjana dan guru dengan sendirinya merupakan salah satu pengejawantahan langsung dari adab terhadap ilmu pengetahuan. Adab terhadap ilmu pengetahuan menjadikan pembelajar memperoleh hakikat dari ilmu yang dipelajarinya. Ilmu tersebut benar-benar menjadi cahaya kalbu. Sebagaimana perkataan salah seorang sahabat Nabi saw, Ibnu Masud ra., bahwasanya hakikat ilmu bukanlah menumpuknya wawasan pengetahuan pada diri seseorang, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam kalbu.

Maka pendidikan bukan sekedar dinamika kemanusiaan semata, melainkan lebih dari itu, pendidikan adalah sarana untuk menemukan kebenaran hakiki yang kemudian mendayagunakan ilmunya di atas jalan kebenaran itu. Dalam konsep pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal harus berdasarkan ilmu. Sebagaimana Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan amal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar. Oleh karenanya para cendekia menganggap kombinasi yang harmonis antara ilmu, amal dan adab sebagai pendidikan. Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan yang berbasis ta’dib.

Ta’dib sebagai proses pembentukan adab pada diri peserta didik, menjadi sarana transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama ke dalam diri manusia. Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya. Harapannya akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun Penciptanya.

Implikasi Ta’dib dalam Diklat Aparatur

Pengembangan pegawai yang menjadi hak aparatur sipil Negara (ASN) sebagaimana dinaungi oleh pasal 70 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara atau dikenal dengan UU ASN dilakukan salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan (diklat). Ketentuan pengembangan karier ASN dilakukan berdasarkan kualifikasi, kompetensi, penilaian kinerja, dan kebutuhan Instansi Pemerintah serta dilakukan dengan mempertimbangkan integritas dan moralitas. Sehingga sasaran diklat aparatur adalah teruwudnya ASN yang memiliki integritas, moralitas dan kompetensi sesuai tugas dan fungsinya. Tentunya dimensi kompetensi tersebut mencakup dimensi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude).

Dengan demikian hal penting dalam diklat aparatur adalah bagaimana menghasilkan SDM Aparatur yang oleh Corner & Urlich (1966) dikatakan akan berperan besar untuk menciptakan nilai (create value). Baik nilai organisasi yang akan menjadi budaya organisasi dan budaya kerja maupun nilai yang berkaitan dengan output/outcome itu sendiri. Diklat aparatur tersebut dirancang secara terpadu dan sistemik agar dapat menghasilkan ASN yang memiliki integritas, moralitas dan kompetensi yang diharapkan yang akan berperan sebagai agen perubahan (agent of change).

Integritas, moralitas dan kompetensi seseorang yang mendorongnya menjadi agent of change dilahirkan dari pribadi yang memiliki keterpaduan iman, ilmu, dan amal. Keimanan yang ditanamkan dengan ilmu, ilmu yang berdimensi iman, dan amal yang berdasarkan ilmu. Untuk itu konsep ta’dib yang menekankan pada proses pembentukan adab pada diri peserta didik perlu implementasikan pada kegiatan diklat aparatur. Diklat sebagai salah satu bagian dari “kapal besar” pendidikan yang berperadaban, sudah semestinya juga memperhatikan peran dan kandungan “adab” dalam prosesnya. Diklat aparatur bernuansa ta’dib perlu dirancang sedemikian rupa agar proses transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan mencapai kebermaknaannya. Melalui penerapan konsep ta’dib maka proses pembelajaran dalam diklat bukan saja transfer of knowledge atau transfer pengetahuan saja, melainkan juga transform of values atau transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama. Sehingga ilmu dan keterampilan yang diperoleh benar-benar bisa menjadi “cahaya” bagi dirinya dan lingkungannya. Jika tidak, maka kita perlu khawatir apa yang dikatakan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa “ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya”. []

Peta Lokasi

Akses Cepat

Kementerian Agama
Website resmi Kemenag RI

DJJ Pusdiklat Teknis
Diklat Jarak Jauh Pusdiklat Teknis

Badan Litbang dan Diklat
Website resmi Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

Video Terkini

Video lainnya klik disini