1Profil         1Layanan Publik1Regulasi    1Gallery  1Data1Fasilitas   1Kontak  1FAQ


Kabalitbangdiklat: Kembangkan akal sehat & rasionalitas agar peradaban tidak musnah

24022016 kabadan buka diklat4CIPUTAT - Sukses menyelenggarakan Diklat Jabatan Fungsional Pendidikan bagi Guru Madya Mata Pelajaran IPA MTs, IPS MTs, dan Bahasa Indonesia MA, selanjutnya Pusdiklat Teknis menggelar diklat untuk angkatan ke-4, ke-5 dan ke-6 dari tanggal 23 Februari s.d 4 Maret 2016. Kali ini yang menjadi sasaran diklat adalah para Guru Madya Bimbingan Konseling MA, Guru Madya PAUD/RA dan Guru Madya Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen SMP. Masing-masing angkatan diklat berjumlah 30 orang peserta. Ketiga angkatan diklat yang diikuti perwakilan dari berbagai Kanwil Kemenag Propinsi di Indonesia itu dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat (Kabalitbangdiklat) Prof. H. Abd. Rachman, Ph.D di Kampus Pusdiklat Ciputat, Rabu (24/2).

Saat itu Prof. H. Abd. Rachman, Ph.D didampingi Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan (Kapusdiklat Teknis) Dr. HM. Kusasi, M.Pd selaku penanggung jawab kegiatan dan Kepala Bidang Penyelenggaraan Diklat Dr. H. Susari, MA serta dihadiri jajaran pejabat struktural dan fungsional di lingkungan Pusdiklat Teknis.

Seusai ketok palu membuka secara resmi ketiga diklat tersebut, Kabalitbangdiklat Prof. H. Abd. Rachman, Ph.D menyampaikan bahwa diklat merupakan amanat UU ASN yaitu Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Setiap pegawai berhak meningkatkan kompetensinya melalui diklat. "Yang seharusnya seorang pegawai memperoleh diklat 1 tahun sekali namun karena keterbatasan anggaran, paling cepat dapat kesempatan 6 tahun sekali." tandas Kabalitbang dalam pengarahannya.

Lebih lanjut beliau mengingatkan bahwa wahyu pertama yg diterima Rasulullah yaitu QS Al-'Alaq adalah perintah membaca. "Peran baca tulis sangat penting. Inti pendidikan adalah membaca. Jadi kalau guru tidak bisa mewujudkn budaya baca pada anak didiknya berarti indikator kegagalan dalam mendidik." tegasnya.

Menurutnya umat Islam menghadapi berbagai problematika saat ini. Seperti: kemunduran umat, kelemahan umat, stagnasi pemikiran umat, absennya ijtihad umat, absennya kemajuan kultural umat, dan tercabutnya umat dari peradaban islam. Lebih khusus lagi dalam hal lecture problem. Yaitu rutinitas yang menyebabkan tidak adanya tantangan - no challenge - dalam mengajar, dan teacher oriented yang masih mendominasi mindset para guru. Selain itu dalam hal student problem, pembelajaran yang tidak mandiri - independen learning, siswa yang pasif di kelas serta lemahnya anak didik dalam kemampuan solve problem. Untuk itu tugas guru harus menguatkan motivasi diri dalam membangun tantangan, membangun kreatifitas anak didik agar banyak bertanya, serta membangun pendidikan yang memberikan problem solving skill. 

Di samping itu, kuatnya budaya "ewuh pakewuh" masih membelenggu pendidikan kita. Lawannya itu adalah directness activity, dan ini yang seharusnya dikembangkn di dunia pendidikan kita." ungkapnya.

Beliau juga menegaskan pentingnya perubahan yang dimulai dari diri pribadi dalam mengembangkan akal sehat dan rasionalitas. "Kembangkan akal sehat dan rasionalitas kita, agar peradaban tidak musnah." pesan beliau di penghujung sambutan pengarahannya sembari mengutip pernyataan populer dair Buaya Hamka, "kalau hidup sekedar hidup maka babi hutan juga hidup, kalau kerja sekedar kerja maka kera juga bekerja."

Peta Lokasi

Akses Cepat

Kementerian Agama
Website resmi Kemenag RI

DJJ Pusdiklat Teknis
Diklat Jarak Jauh Pusdiklat Teknis

Badan Litbang dan Diklat
Website resmi Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

Video Terkini

Video lainnya klik disini